10 Tantangan Cyber Security di Industri 4.0 - IDS Digital College

10 Tantangan Cyber Security di Industi 4.0

Cyber security adalah suatu proses untuk melindungi sistem, data, jaringan dan program dari ancaman digital atau serangan siber (cyber attack). Cyber security sangat dibutuhkan, terutama bagi bisnis sebuah perusahaan agar lebih kompetitif.

Perusahaan yang menerapkan cyber security memiliki keunggulan yakni mempertahankan reputasi perusahaan dan lebih percaya diri dalam menggaet konsumen. Jika data pelanggan bocor, tentu perusahaan akan kehilangan kepercayaan lagi dari para konsumen.

Berikut 10 tantangan terbesar yang akan dihadapi cyber security. Adapun beberapa permasalahan dibawah ini jika ditangani dengan tepat, akan membantu para pelaku usaha dalam meminimalisir cyber attack.

  • Penyalahgunaan Jaringan 5G Secara Tidak Sah oleh Pihak Ketiga

penyalahgunaan jaringan

Jaringan 5G merupakan jaringan seluler generasi kelima yang memiliki keunggulan dalam kecepatan internet dibanding jaringan sebelumnya (4G). Pengguna dari jaringan ini cukup banyak, disebabkan jaringan ini dapat membantu pekerjaan mereka menjadi lebih efisien.

Akan tetapi, muncul permasalahan yang terjadi. Dimana para pelaku kejahatan dunia maya sebagai pihak ketiga, secara tidak sah akan memasuki jaringan nirkabel 5G melalui berbagai titik dan menyalahgunakan data yang tersimpan di handphone.

Dikutip dari portal cloud computing.id, CEO Nippon Telegraph and Telephone Corporation (NTT) mengemukakan jaringan 5G di Indonesia memiliki kerentanan serta tidak terlepas dari ancaman keamanan siber (cyber security).

Bila terjadi kebocoran data pada jaringan 5G, maka sejumlah data sensitif seperti telepon, chat dan lain-lain bisa diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Oleh karenanya perusahaan diimbau untuk bisa lebih memilah data-data yang sekiranya tidak penting untuk kemudian disortir melalui system. Sehingga semua data dapat disimpan dengan baik dan ancaman serangan siber (cyber attack) bisa dikurangi.

  • Tingkat Peningkatan Malware Seluler

malware

Malware merupakan sebuah perangkat lunak (software) berbahaya yang sengaja digunakan untuk menyebabkan kerusakan pada komputer, sistem dan jaringan. Malware bisa membahayakan penggunanya melalui virus, spyware dan sebagainya.

Malware khusus seluler dirancang untuk menyerang beragam fitur smartphone maupun tablet. Terlebih lagi di era pandemi saat ini, dimana sistem komunikasi dan data bisa diakses seluler (asalkan terkoneksi internet). Malware seluler bisa mencuri data tersebut dan bisa berimbas kepada perusahaan tempat pengguna bekerja.

  • Artificial Intelligence (AI) Salah Satu Sistem Kontrol Cyber Security

artificial intelligence

Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dapat membantu meminimalisir cyber attack. AI bisa mendeteksi ancaman dan menemukan korelasinya dengan potensi resiko yang cepat. Selain itu, bila mewajibkan pengguna untuk mendaftar dengan menginput data pribadi, AI adalah pilihan yang tepat sebagai lapisan keamanan backend.

  • Meningkatnya Popularitas Perangkat IoT

internet-of-things

Penggunaan perangkat Internet-of-Things sedang menjadi tren saat ini. Namun, dengan popularitasnya yang semakin meningkat, sejalan pula dengan kejahatan siber yang meningkat pula. Para peretas tidak akan segan menghancurkan lalu lintas internet.

Bila produsen IoT gagal untuk mengamankan perangkat mereka, maka konsumen akan mulai ragu-ragu untuk membeli produk mereka akibat ketakutan dan tidak adanya perlindungan sistem (cyber security).

  • Ransomware Menargetkan Para Pelaku Bisnis

ransomware

Ransomware terdiri dua kata yaitu ransome (tebusan) dan malware. Dimana jenis perangkat ini dirancang untuk menghalangi akses pengguna komputer atau data, hingga tebusan dibayar.

Serangan Ransomware secara langsung atau tidak langsung akan menargetkan para pelaku usaha kecil maupun menengah.

Dimana para pelaku akan mengirimkan malware atau virus lain ke ponsel atau jaringan seluler yang digunakan saat ini. Virus tersebut akan menginfeksi ponsel maupun komputer yang terhubung dengan jaringan seluler yang sama.

Kemudian, semua data atau informasi pribadi akan diakses oleh pelaku. Mereka akan mengancam dan meminta uang tebusan nantinya kepada para pengguna.

  • Serangan Phishing dan Spear-Phishing

phishing

Phishing merupakan teknik pencurian bertujuan untuk memperoleh data-data informasi pribadi dengan tujuan menguras harta korbannya. Informasi yang didapatkan bisa melalui media social, email, via telepon dan lain-lain.

Spear-phishing adalah sub-bagian dari phising dan merupakan versi yang lebih canggih. Dimana penipu mengirim email berbahaya ke korban. Setelah itu, para korban dianalisis dengan baik oleh pelaku berdasarkan kekuatan mental dan emosional.

  • Munculnya Hacktivisme

hacktivisme

Hacktivisme merupakan perpaduan antara hacker dan aktivis. Secara umum, para Hacktivisme bertujuan membobol komputer seseorang dan mencuri informasi seperti agenda politik atau sosial. Adapun target mereka biasanya situs web pemerintahan.

Mereka akan merusak protokol keamanan dan mengumumkan maksud dari peretasan tersebut. Akan tetapi, tidak peduli apa niat dari para peretas tersebut. Serangan kriminal semacam ini merupakan tamparan bagi organisasi pemerintah pentingnya menjaga aset pelanggan (masyarakat).

  • Dronejacking ancaman baru serangan siber

dronejacking

Dronejacking adalah cara pelaku kejahatan siber menggunakan drone seperti mainan dan dengan mudah mengambil kendali atas informasi pribadi. Drone biasanya digunakan oleh fotographer atau bahkan perusahan Amazon menggunakannya sebagai pengantar barang.

Hal ini bisa menjadi celah untuk para pelaku kejahatan untuk memanipulasi data jumlah pesanan atau mengambil alih drone saat sedang terbang. Untuk itu pentingnya cyber security untuk menghindari kejadian-kejadian tersebut.

  • Pencegahan Rekayasa Sosial

rekayasa sosial

Rekayasa sosial berkaitan dengan jenis serangan siber di mana para peretas fokus pada trik dan strategi non-teknologi daripada menggunakan pendekatan atau alat teknologi untuk menjebak pengguna.

Para pelaku kejahatan mengambil akses yang sah ke informasi pribadi seseorang, kemudian mengeksploitasi melalui kelemahan kepribadian. Sesuai laporan Google, sebagian besar serangan SEA atau Rekayasa Sosial adalah phishing melalui email resmi atau situs web berbahaya yang hampir terlihat asli.

  • Pihak Internal Perusahaan

Tantangan cyber security yang terakhir dari pihak internal perusahaan itu sendiri (karyawan). Sebagian besar para pelaku usaha tidak menyadari, bahwa orang dalam merupakan salah satu ancaman yang bisa menghancurkan sebuah bisnis. Hal ini bisa terjadi karena tidak terpenuhinya hak-hak karyawan dan lain-lain.

Posted in: News



    error

    Enjoy this blog? Please spread the word :)

    WhatsApp chat