Asia Pasifik Jadi Target Termudah Bagi Serangan Siber Selama Tahun 2020 - IDS Digital College

Asia Pasifik Jadi Target Termudah Bagi Serangan Siber Selama Tahun 2020

Dilansir dari cloudcomputing.id, menurut hasil penelitian perusahaan keamanan siber Kaspersky, Asia Pasifik merupakan target empuk bagi para penjahat siber. Hal ini terjadi tak lain karena dampak dari pandemi COVID-19 

 

“Hal tersebut merupakan salah satu efek dari pandemi yang memaksa semua orang, dari individu hingga perusahaan besar beralih ke online” ungkap Director of Global Research and Analytics Asia Pasifik di Kaspersky, Vitaly Kamluk.

 

Riset yang dilakukan oleh Kaspersky menunjukan bahwa negara-negara yang paling berdampak atas kejahatan siber dalam hal kebocoran data adalah Australia dan India. Tahun 2020 lalu, kebocoran data adalah tren kejahatan siber yang menjamur. Ini jadi peluang luas bagi para penjahat siber untuk mengeksploitasi data-data yang tersebar di Internet, dan menggunakannya untuk hal-hal yang jahat.

 

Kebocoran data kebanyakan dialami oleh tujuh sektor dengan angka terbesar yang ada pada industri ringan, industri besar, konsultan, layanan publik, keuangan dan logistik, layanan publik, logistik hingga media dan teknologi. 

 

Menurut Vitaly Kamluk, kebocoran data yang terjadi sepanjang tahun 2020 ini dipicu dengan adanya peningkatan terhadap penggunaan media sosial untuk berinteraksi dengan orang lain, menjaga kesehatan fisik, memberikan dukungan pada komunitas, hiburan selama di rumah saja, serta transaksi online melalui berbagai layanan yang tersedia. 

 

Situasi di saat pandemi ini memang menjadi celah besar bagi penjahat siber untuk beraksi. Mulai dari melakukan phising, ransomware dan lain sebagainya. Terlebih lagi mencuri data merupakan hal yang cukup mudah, penjahat siber akan mencuri data dan memperjual belikannya kemudian meminta uang tebusan pada yang bersangkutan. 

 

Hasil riset menunjukan bahwa serangan brute force pada April 2020 yang menyerang server database mengalami peningkatan sebanyak 23% dan file berbahaya yang ditanam di situs web meningkat hingga 8%. Bukan hanya itu, serangan jaringan dan email phishing juga terus mengalami peningkatan. 

 

“Dari analisis 350.000 sample malware sehari sebelum COVID-19, kami melihat total 428.000 sampel baru per jendela 24 jam COVID-19 yang dimanfaatkan penjahat siber sebagai modus penipuan pesan atau email yang menjanjikan obat virus corona, bahkan mengatasnamakan pemerintah,” ungkap Vitaly Kamluk. 

 

Kamluk juga menjelaskan bahwa masyarakat hanya dapat mengendalikan dan mengandalkan aktivitas online selama masa pandemi yang masih belum sepenuhnya hilang hingga saat ini. Karena itu perlu peningkatan dan kewaspadaan ekstra untuk tetap melindungi identitas data dan aset digital kamu. 

Apakah kamu ingin bekerja dalam bidang cyber security? Kamu bisa kuliah jurusan Teknik Informatika di IDS Digital College.

Posted in: News


error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

WhatsApp chat