Mengenal Fintech melalui Webinar “Trends in Fintech and How You Can Benefit From Them” - IDS Digital College

Mengenal Fintech melalui Webinar “Trends in Fintech and How You Can Benefit From Them”

Saat ini, perusahaan basis digital tumbuh pesat dalam beberapa waktu terakhir dan menjadi bagian penting dalam perekonomian Indonesia yang merambah ke berbagai sektor. Menyadari pentingnya hal itu, SIMT ITS berkolaborasi dengan IDS Digital College mengadakan Pendidikan Magister Inovasi Sistem dan Teknologi dengan bidang Keahlian Startup Teknologi. Kemudian pada November 2021, dari program kolaborasi ini, juga diadakan webinar “Trends in Fintech and How You Can Benefit From Them” yang sekaligus memperkenalkan program S2 tersebut dengan main speaker Dr. Eddi Danusaputro, S.E., MBA., selaku CEO PT. Mandiri Capital Indonesia dan dimoderatori oleh Mizati Dewi Wasdiana. Webinar tersebut dilaksanakan selama hampir 2 jam dengan opening speech dari Dekan Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi (SIMT) ITS, Bapak I Nyoman Pujawan, Phd dan Managing partner Ideosource Venture Capital, Andi Budiman mengenai perkenalan SIMT ITS dan program S2 yang akan dilaksanakan. Disebutkan bahwa program S2 Startup Teknologi ini memiliki visi misi menghasilkan lulusan dengan keunggulan teknologi dan inovasi menuju transformasi society 5.0 dengan impact yang berdampak kepada manusia, tentunya dengan SDM yang katalis. Tentunya, akan ada banyak benefit dari program 4 semester dengan 36 SKS ini. Program ini ditujukan untuk entrepreneur, pemimpin bisnis, pendiri bisnis rintisan/startup, manajer, konsultan bisnis dan inovasi. 

Fintech Webinar

Disrupsi Digital yang Mempengaruhi Sektor Offline

Materi utama dari webinar ini merupakan fintech yang berfokus pada Digital Disruption in Financial Markets. Mandiri capital didirikan untuk investasi ke startup yang dapat mendukung inovasi Mandiri yang mana disrupsi digital telah terjadi di berbagai sektor sejak beberapa tahun lalu. Mulai dari sektor online transportation, online shopping, online travel agent yang mengubah metode transaksi fisik/konvensional menjadi digital. Mengikuti perubahan sektor-sektor tersebut, inovasi business model juga telah banyak berubah, meliputi:

  1. Gojek yang awalnya belum sukses karena pakai call center, dan mulai sukses dengan sistem aplikasi mitra dan users/customers. 
  2. Business model travelling yang mana mulai dari check out lewat aplikasi sampai pembelian sebanyak-banyaknya untuk dijual pada musim tertentu secara ketengan. 
  3. E-commerce dengan benefitnya yang bervariasi seperti diskon, points, cashback, serta bermacam sistem pengiriman yang mendisrupsi toko offline.

Hal ini mengharuskan para inovator dan perintis startup untuk mulai berubah dan melihat trend. Dalam waktu singkat, valuation bisnis transportasi online yang biayanya variabel dengan kemitraan, menjadi lebih banyak dari valuation instansi transportasi biasa yang biasanya berat di biaya rutin. Sebenarnya, kalau ditilik lebih lanjut beberapa startup mulai profitability, karena bisnis model awalnya itu sangat “bakar” uang dan subsidi untuk mendapatkan users dan transactions yang banyak dan pelan-pelan mulai menaikkan harga. Bahkan di Banking Industry sendiri, semakin banyak mobile banking yang tumbuh pesat di smartphone para user.

Disrupsi yang Mempengaruhi Sesama Sektor Digital

Di zaman disrupsi, ATM dan bank cabang sudah kurang profitable, dengan cost of running 1 ATM bisa sampai 15-20 juta dengan segala sumber daya yang dibutuhkan, tetapi fee base income sekitar 12 juta dan menyebabkan terjadinya losing money. Namun, bank tetap dipertahankan karena masih banyak yang belum terbiasa dengan smartphone dan ada yang tidak punya juga. Di sisi lain, bank tetap berkembang menjadi technology company (IT) dengan bank license. Jadi, saat ini disrupsi bukan hanya mempengaruhi bisnis offline, tetapi di digitalnya itu sendiri juga terjadi. Kita bisa lihat dari bagaimana financial service, payment and lending site sedang mengarah ke bisnis IT, dan begitupun sebaliknya. Hal ini tentu menyebabkan banyaknya pesaing di lapangan mulai dari instansi di sektor tersebut bahkan sampai ke startup, beberapa contohnya yakni:

  1. Saingan Bank Mandiri, BCA, dll yang dulunya bersaing dan sudah terdapat mobile banking, sekarang juga “bersaing” dengan online payment lain seperti Shopeepay, Gopay, dll. 
  2. Korporasi masih memakai lending untuk pendanaan, tetapi UKM memakai non-bank P2P (Peer to Peer) platform untuk pembiayaan modal seperti Modalku, Amartha, dll. 
  3. Di sektor retail dari banyak pembayaran “kartu gesek” sudah berubah menjadi QRIS, e-Wallet, dll. 

Melihat banyaknya bisnis dan startup yang semakin bermunculan, maka sekarang adalah era untuk kolaborasi, bukan lagi bersaing.

Fintech bukan hanya berpatokan pada payment dan lending/loan, tapi banyak di sektor lainnya, meliputi:

  1. Trading (seperti Stockbit, Bibit, Ajaib, Peluang, Pintu).
  2. Crypto
  3. Insurance technology
  4. Enterprise solution
  5. Crowdfunding, dan lainnya. 

Bagaimana Startup Bisa Mendapatkan Investasi?

Mayoritas startup kalau mengambil pinjaman untuk modal awal akan ditolak karena tidak punya jaminan dan belum profit, syaratnya adalah cashflow positif. Startup bisa menjual saham ke investor 10% ke perusahaan, lalu akan dilakukan rise issue, penerbitan saham baru, dan dibeli oleh investor baru, kemudian uangnya masuk ke perusahaan sebagai modal untuk ekspansi dan menaikkan valuation, bukan untuk existing founders. Founder harus nyaman dengan “pemegang saham bersama pembeli ekuitas” yang banyak pro kontranya, bukan kredit. Pro nya saham yang didapat tidak menjadi utang jadi tidak perlu dilunasi, kontranya investor menilai detail dan punya hak keputusan kalau sahamnya besar. 

Fintech Webinar

Fintech Webinar

Series of stages investor startup dimulai dari beberapa tahapan, diantaranya:

  1. Seed stage dimana startup sudah punya produk dan terdapat angel Investors yang berbaik hati memodali di awal dan biasanya adalah 3F (Friends, Family, Fools) fools maksudnya yang terlalu mengambil risiko berinvestasi ke startup, 
  2. Early stage mulai berjualan.
  3. Growth stage itu sudah menjual dan pernah profitable, di series A,B,C dengan venture capital dan korporasi, konglomerat, dll yang menjadi investor.
  4. Hingga akhirnya pada later stage sudah profitable di series D,E, dll startup bisa menjadi IPO. 

Sesi materi Dr. Eddi menjadi lebih dalam lagi, dimana peserta diajak brainstorming mengenai investasi ke startup terutama corporate VCs, dimana terdapat 6 kriteria untuk menginvestasikan saham, yang diantaranya: 

  • Founder team, pada early stage lihat kemampuan founder dalam bertahan dan ketangguhan dengan banyaknya perubahan di awal dan jangan hanya 1 founder juga jangan terlalu banyak, cukup 2-4.
  • Market potential, jika pada Growth stage sudah stabil, maka yang paling penting traction/market share nya sudah harus konstan naik dan bisa jadi top 3 atau 5 di sub sektor tersebut.
  • Konsep bisnis, business model juga penting, karena penting untuk mendapat revenue dan omset/profitnya dan tidak salah bisnis modelnya, ada banyak sekali model yang bisa dipilih seperti e-commerce dengan model komisi setelah mempertemukan buyer & seller, on-demand komisinya ada setelah nasabah perlu dan ordering, subscription model bisa akses kalau berlangganan, free-premium gratis di awal dan harus premium untuk akses lebih, advertising, dll
  • Banyak sedikitnya persaingan
  • Traction/revenues
  • Strategic fit. 

Inovasi startup tidak selalu terkait dengan IT seperti programming dan coding, bisa dari traditional product disisipkan inovasi yang bisa menjadikan bisnis linear menjadi eksponensial dengan growth yang naik. Lalu, saat sudah ada investor yang mulai menanamkan sahamnya, akan mulai di track mengenai berapa banyak customer/merchants/GMV yang menggunakan aplikasi ataupun produk itu nantinya. Growth tapi berkonsolidasi dan akan terus terjadi. Promosi teknologi akan menjadi komoditi. Akan ada banyak lagi ilmu mengenai teknologi dan startup yang akan kamu temui di program s2 kolaborasi ITS dan IDS College ini. 

Nah, untuk kamu yang mau melanjutkan studi s2 di atas, jangan khawatir dengan biaya karena akan ada kerja sama dengan paylater ataupun cicilan per bulan dan akan direncanakan juga bisa mengurangi biaya per semester. Jika kamu ragu dengan bidang startup, kamu bisa belajar di sini, atau minimal “nyemplung” aja dulu di bidang dan inovasi yang kamu rencanakan, tidak apa-apa gagal karena percobaan pertama memang sering jadi ajang kegagalan, asalkan kita tahu nih apa yang harus dipelajari kemudian untuk memperbaikinya dan tetap membangun networking dengan percaya diri.

Posted in: News



    WhatsApp chat