Serangan Cyber Security Indonesia Tahun 2020 VS 2021 - IDS Digital College

Serangan Cyber Security Indonesia Tahun 2020 VS 2021

Selama tahun 2020-2021, kasus kebocoran data di Indonesia kerap kali terjadi. Bisa dikatakan ini menyebabkan Cyber Security Indonesia dalam kondisi yang tidak aman. Menurut Country Manager Trend Micro Indonesia, Laksana Budiwiyono sebetulnya ada kabar baik dan buruk mengenai serangan siber di Indonesia. Menurut Laksana, serangan di Indonesia pada tahun 2020 mengalami penurunan secara angka.Tapi sayangnya serangan siber yang dihantamkan oleh para penjahat siber semakin dasyat. "Ada penurunan dan itu bagus, tapi serangannya makin mengerikan dan makan korbannya makin mengerikan. Artinya, para penjahat itu tidak bisa dipungkiri makin lama makin hebat tingkat kejahatannya, nggak simpel lagi dan makin targeted. Dengan index -0,12 masih bersyukur tapi ini sudah masuk risiko sedang," ujar Laksana. Menurut Laksana juga, ada 2 tipe jebakan siber, targeted dan massive. Masif bisa diibaratkan penjahat siber yang “melempar jala”, bisa phishing dan lain-lain tergantung dari keberuntungan. Siapa yang kurang bagus proteksinya maka bisa terkena serangan siber. "Nah sekarang sudah targeted nih. Artinya mereka sudah merencanakan institusi A, dan biasanya lebih dahsyat (serangannya - red)," ujarnya. Berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan oleh Trend Micro, cyber risk index (CRI) Indonesia pada tahun 2020 ada di angka 0.26 dan masuk dalam resiko sedang. Sedangkan di tahun 2021, turun jadi -0.12 yang artinya resiko meningkat, meski belum masuk kategori high risk (resiko tinggi). Sebagai gambaran jika diurutkan sesuai warna, maka 5,01 sampai 10 adalah low risk, 0,1 - 5,0 moderate risk, 2,51 hingga -5,0 elevated risk, dan -5.01 sampai -10 adalah high risk. Artinya, Indonesia selalu ada di area kuning dan orange. Serangan Siber Meresahkan Netizen Serangan siber yang berujung pada kebocoran data membuat banyak orang jadi stress. Hal ini didapat dari survey yang dilakukan oleh Kaspersky terhadap pengguna internet di Amerika Serikat dan Kanada. Did alam survey tersebut, 70% dari 2500 pengguna internet merasa jadi lebih stress saat membaca berita terkait pembobolan data pribadi. Setengah responden mengaku jika penggunaan layanan online-nya mengalami peningkatan selama pandemi COVID-19, dan 56% mengaku jika dunia maya adalah salah satu sumber stress bagi mereka. 25% responden mengaku waktu onlinenya meningkat signifikan selama pandemi. Meski tingkat stres meningkat, banyak juga responden yang merasa makin percaya diri menghadapi serangan siber. 36% mengaku mereka sudah siap menghadapi serangan siber dan 23% mengaku belum siap menghadapi serangan siber. Menurut CEO ThreatModeler, Archie Agarwal yang dikutip dari detik.com, hasil penelitian menunjukkan hal yang sebaliknya. Mereka takut menjadi korban serangan siber tapi tidak mengambil langkah apapun untuk melindungi diri. Sebagai contoh, 64% responden mengaku takut rekening banknya diakses secara ilegal, dari pada takut kehilangan pekerjaan. Tapi 44% responden mengaku tidak melindungi smartphone-nya dengan PIN. "Dengan banyaknya penggunaan mobile banking, hal ini sangat membingungkan. Jadi ketakutan bukanlah motivator yang baik untuk mengambil aksi, dan organisasi seharusnya tak lagi menggunakan ketakutan untuk memotivasi karyawannya agar menjaga keamanan datanya dan mencari cara lain yang lebih positif," ungkap Agarwal. Punya minat untuk mempelajari tentang Cyber Security Indonesia? Kamu bisa kuliah kelas karyawan Jurusan Teknik Informatika di IDS Digital College. Prospek Kerja Teknik Informatika yang makin luas beberapa tahun mendapat membuat jurusan ini kian diminati. Apply sekarang, yuk!

Selama tahun 2020-2021, kasus kebocoran data di Indonesia kerap kali terjadi. Bisa dikatakan ini menyebabkan Cyber Security Indonesia dalam kondisi yang tidak aman. Menurut Country Manager Trend Micro Indonesia, Laksana Budiwiyono sebetulnya ada kabar baik dan buruk mengenai serangan siber di Indonesia. 

Menurut Laksana, serangan di Indonesia pada tahun 2020 mengalami penurunan secara angka.Tapi sayangnya serangan siber yang dihantamkan oleh para penjahat siber semakin dasyat. 

“Ada penurunan dan itu bagus, tapi serangannya makin mengerikan dan makan korbannya makin mengerikan. Artinya, para penjahat itu tidak bisa dipungkiri makin lama makin hebat tingkat kejahatannya, nggak simpel lagi dan makin targeted. Dengan index -0,12 masih bersyukur tapi ini sudah masuk risiko sedang,” ujar Laksana.

Menurut Laksana juga, ada 2 tipe jebakan siber, targeted dan massive. Masif bisa diibaratkan penjahat siber yang “melempar jala”, bisa phishing dan lain-lain tergantung dari keberuntungan. Siapa yang kurang bagus proteksinya maka bisa terkena serangan siber. 

“Nah sekarang sudah targeted nih. Artinya mereka sudah merencanakan institusi A, dan biasanya lebih dahsyat (serangannya – red),” ujarnya.

Berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan oleh Trend Micro, cyber risk index (CRI) Indonesia pada tahun 2020 ada di angka 0.26 dan masuk dalam resiko sedang. Sedangkan di tahun 2021, turun jadi -0.12 yang artinya resiko meningkat, meski belum masuk kategori high risk (resiko tinggi). 

Sebagai gambaran jika diurutkan sesuai warna, maka 5,01 sampai 10 adalah low risk, 0,1 – 5,0 moderate risk, 2,51 hingga -5,0 elevated risk, dan -5.01 sampai -10 adalah high risk. Artinya, Indonesia selalu ada di area kuning dan orange. 

Serangan Siber Meresahkan Netizen

Serangan siber yang berujung pada kebocoran data membuat banyak orang jadi stress. Hal ini didapat dari survey yang dilakukan oleh Kaspersky terhadap pengguna internet di Amerika Serikat dan Kanada.

Did alam survey tersebut,  70% dari 2500 pengguna internet merasa jadi lebih stress saat membaca berita terkait pembobolan data pribadi. Setengah responden mengaku jika penggunaan layanan online-nya mengalami peningkatan selama pandemi COVID-19, dan 56% mengaku jika dunia maya adalah salah satu sumber stress bagi mereka. 25% responden mengaku waktu onlinenya meningkat signifikan selama pandemi.

Baca Juga: 4 Virus Komputer yang Menjadi Ancaman Cyber Security Indonesia

Meski tingkat stres meningkat, banyak juga responden yang merasa makin percaya diri menghadapi serangan siber. 36% mengaku mereka sudah siap menghadapi serangan siber dan 23% mengaku belum siap menghadapi serangan siber. 

Menurut CEO ThreatModeler, Archie Agarwal yang dikutip dari detik.com, hasil penelitian menunjukkan hal yang sebaliknya. Mereka takut menjadi korban serangan siber tapi tidak mengambil langkah apapun untuk melindungi diri. 

Sebagai contoh, 64% responden mengaku takut rekening banknya diakses secara ilegal, dari pada takut kehilangan pekerjaan. Tapi 44% responden mengaku tidak melindungi smartphone-nya dengan PIN. 

“Dengan banyaknya penggunaan mobile banking, hal ini sangat membingungkan. Jadi ketakutan bukanlah motivator yang baik untuk mengambil aksi, dan organisasi seharusnya tak lagi menggunakan ketakutan untuk memotivasi karyawannya agar menjaga keamanan datanya dan mencari cara lain yang lebih positif,” ungkap Agarwal.

Punya minat untuk mempelajari tentang Cyber Security Indonesia? Kamu bisa kuliah kelas karyawan Jurusan Teknik Informatika di IDS Digital College. Prospek Kerja Teknik Informatika yang makin luas beberapa tahun mendapat membuat jurusan ini kian diminati. Apply sekarang, yuk!

Posted in: News


error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

WhatsApp chat