Berkenalan Dengan Startup Pivot - IDS Digital College

Berkenalan Dengan Startup Pivot

Startup adalah merujuk pada perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Tetapi akan lebih mudah jika istilah Startup diartikan sebagai perusahaan rintisan atau perusahaan baru yang sedang dikembangkan. Startup mulai berkembang akhir tahun 90an hingga tahun 2000, nyatanya istilah Startup banyak ‘dikawinkan‘ dengan segala yang berbau teknologi, website, aplikasi, internet dan yang berhubungan dengan ranah tersebut.

Pada dasarnya dalam startup, pivoting atau pivot adalah melakukan perubahan strategi untuk mengarahkan bisnis ke situasi yang menguntungkan atau diinginkan. 

Perubahan di sini tidak selalu dimaknai melakukan perubahan pada bisnis startup atau perusahaan secara drastis, tapi bisa jadi hanya pada beberapa aspek dari perusahan. 

Contohnya mengubah fitur produk, mengubah platform, mengubah model pendapatan baru untuk meningkatkan monetisasi, mengubah teknologi yang dipakai atau mengubah target pasar. 

Startup biasanya melakukan pivot setelah mendapatkan umpan balik dari konsumen atau pakar tentang produk atau strategi yang saat ini digunakan perusahaan. 

Pivoting atau pivot juga biasanya menjadi bagian dari perjalanan startup khususnya di fase-fase awal ketika berjalan tanpa bimbingan sehingga mungkin tanpa disadari melewatkan beberapa aspek penting dalam bisnis. 

Tidak ada ketentuan pasti kapan sebuah startup harus mengambil langkah untuk melakukan pivot. Pasalnya, pivoting tidak hanya bisa dilakukan ketika bisnis bangkrut.

Startup bisa saja melakukan pivot ketika menemukan hambatan. Beberapa contoh hambatan yang membuat startup melakukan pivot adalah:  

1. Ketika pertumbuhan stagnan 

Perusahaan dapat melakukan pivot ketika terjebak dalam situasi dimana tidak ada lagi ruang tersisa untuk tumbuh. 

Misalnya basis pelanggan tidak meningkat, pendapatan stagnan untuk jangka waktu yang lama, dan peningkatan pengeluaran di marketing tidak berdampak pada peningkatan pelanggan baru dan mempertahankannya. 

2. Core value perusahaan tidak sejalan dengan pengguna 

Pivot juga seringkali terjadi ketika pendiri menyadari bahwa fokus pelanggan mereka tidak sejalan dengan nilai  yang mereka miliki. 

Menjual produk yang berbeda dengan kebutuhan pasar inilah yang bisa menjadi alasan lain kenapa startup dapat melakukan pivot. 

3. Butuh beradaptasi dengan pasar

Startup diharapkan dapat gesit dalam melakukan pendekatan ke pasar. Ini berarti startup juga dituntut untuk jeli beradaptasi dalam perubahan terutama yang berkaitan dengan pelanggan. 

Untuk mencapai hal ini tak jarang pivot pun dianggap sebagai salah satu jalan keluar. 

4. Isu internal dalam tim 

Dalam perjalanan sebuah perusahaan adanya masalah dan argumen dalam tim tentu bisa jadi terjadi. Namun ketika anggota tim mulai kehilangan semangat dalam apa yang mereka tengah bangun, maka ini menjadi tanda lain perusahaan dapat melakukan pivot. 

Pasalnya, seberapa baik kinerja mereka namun bila tidak ada semangat untuk membangunnya, maka pertumbuhan startup pun bisa terpengaruhi. 

5. Selalu dikalahkan oleh kompetitor

Persaingan startup itu sengit. Ini berarti bisa jadi bisnismu akan dikalahkan oleh perusahaan lain yang berhasil mendominasi. Dalam hal ini, tak jarang perusahaan harus melakukan pivot untuk mengubah produk, layanan atau mengubah strategi penjualan demi mengalahkan pesaing 

Beberapa contoh startup yang berhasil mencapai kesuksesan dengan melakukan pivot adalah:

1. Instagram 

Saat ini instagram dikenal sebagai salah satu media sosial yang populer. Namun sebelum menjadi seperti sekarang, Instagram sebetulnya adalah prototipe sederhana yang dibangun Kevin Systrom sambil belajar programming. 

Pada awalnya, Instagram yang dikenal sebagai Burbn yang memiliki fitur check-in, opsi unggah foto dan deretan fungsi lainnya. Namun, Systrom dan co-founder Mike Krieger merasa aplikasi ini masih terlalu berantakan. 

Mereka pun memutuskan untuk mengurangi fiturnya hanya menjadi fitur unggah, berkomentar dan like. Aplikasi ini pun berganti nama menjadi Instagram seperti sekarang. 

2. YouTube 

Sebelum populer seperti sekarang, YouTube bukanlah tempat di mana kamu bisa mencari banyak video yang lucu dan tengah naik daun. 

YouTube awalnya adalah situs kencan yang memungkinkan para penggunanya mengunggah video tentang diri mereka untuk membicarakan apa saja yang mereka inginkan dalam pasangan. Namun saat itu hanya sedikit orang yang memanfaatkan fitur ini, sehingga pendiri YouTube pun melakukan pivot dan membiarkan semua penggunanya untuk mengunggah video apapun yang mereka inginkan. 

3. Netflix 

Sama seperti YouTube, pada awalnya Netflix bukanlah platform streaming konten video. Perusahaan ini awalnya mengoperasikan layanan pesan antar untuk DVD yang disewakan. 

Namun seiring meningkatkan permintaan akan konten digital, Netflix pun tidak hanya mulai menawarkan akses kepada film dan acara TV secara online tapi juga mulai memproduksi program aslinya sendiri. 

4. Twitter 

Twitter diluncurkan pada tahun 2005 dengan nama Odeo, sebuah platform untuk menemukan dan berlangganan podcast. Namun  Odeo pun memutuskan untuk melakukan pivot. Karyawan perusahaan diberikan waktu dua minggu untuk mencari ide baru. 

Saat itu co-founder Twitter, Jack Dorsey yang pertama memperkenalkan ide untuk menciptakan platform microblogging dimana penggunanya dapat membagikan dan membaca update status secara real-time yang kini dikenal sebagai twitter. 

Twitter sendiri kini tidak hanya digunakan untuk berbagi pembaruan status, tapi juga platform untuk banyak hal seperti jurnalisme warga. 

Posted in: News


error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

WhatsApp chat