BI Bocorkan Strateginya Mengatasi Fraud Pada Sektor Keuangan - IDS Digital College

BI Bocorkan Strateginya Mengatasi Fraud Pada Sektor Keuangan

Dunia digital yang makin kompleks, utamanya masalah finansial membuat fenomena Fraud semakin meningkat. 

 

Prasetyo Hendardi selaku Direktur Departemen Surveilans mengatakan pihaknya sudah memiliki beragam upaya mitigasi fraud sektor finansial khususnya sektor non bank. 

 

Prasetyo mengatakan jika untuk menangani Fraud ini, BI memiliki 6 langkah memitigasi fraud dimana salah satunya tercantum dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia tahun 2025.

 

“Dalam blueprint, penyelenggara perlu mengikuti penerapan Know Your Customer (KYC), implementasi regtech/supertech, reformasi regulasi, dan menerapkan pengawasan yang lebih ketat seiring makin kompleksnya layanan,” kata Prasetyo, dikutip dari Kompas.com dalam webinar Infobank secara virtual, Kamis (4/2/2021).

 

Kelima upaya lain dari bank sentral antara lain, dengan adanya reformasi ketentuan sistem pembayaran dalam PBI No. 22/23/PBI/2020 mengenai Sistem Pembayaran, mengatur ketentuan perlindungan koseumen, serta membuat framework ketentuan resiko manajemen saiber. 

 

Bank sentral juga melakukan pengawasan bidang sistem pembayaran dan membuat platform untuk berbagi pada penyelenggara (cyber security platform).

 

Dalam platform tersebut, para penyelenggara bisa sharing informasi tentang fraud yang terjadi. Ini bertujuan supaya penyelenggara bisa mitigasi resiko fraud lebih dini jika ada kasus fraud yang serupa. 

 

“Jadi di sini adalah keterlibatan PJSP (penyelenggara jasa sistem pembayaran) dalam cyber security sharing platform sehingga kalau ada fraud serupa, itu tidak terjadi lagi. Kami akan enhance pengawasan di bidang SP, juga ada PBI perlindungan konsumen,” tambah Prasetyo. 

 

Prasetyo juga mengatakan lebih lanjut jika fraud biasa terjadi dalam sistem pembayaran terdiri dari 4 jenis yaitu, pada kanal monetisasi seperti transfer credit, pull transaction, dengan atau tanpa kartu, dan dompet digital. 

 

“Kalau jenis transfer credit itu dapat terjadi pada keempat tahapan proses pembayaran. Kalau jenis dengan kartu, biasanya kartu (debit) dicuri. Sedangkan kalau yang tanpa kartu, biasanya fraud terjadi karena nomor kartunya terpegang atau dicopy oleh fraudster termasuk 3 sandi di belakang kartu (CVV),” tutup Prasetyo.

Posted in: News


error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

WhatsApp chat