Dengan AI, Kini Ujaran Kebencian di Twitter Bisa Dideteksi dengan Mudah - IDS Digital College

Dengan AI, Kini Ujaran Kebencian di Twitter Bisa Dideteksi dengan Mudah

Twitter merupakan salah satu platform media sosial yang populer. Jumlah penggunanya pun kian meningkat. Tak hanya dipakai sebagai media untuk saling berbagi kabar, menyapa, serta berinteraksi ke teman-teman atau followers, tapi juga digunakan dalam berbisnis online atau melakukan social media campaign. Dibalik efeknya yang begitu masif, berbagai konflik mewarnai dunia Twitter salah satunya melalui ujaran kebencian. Untungnya, saat ini para peneliti UI tengah mengembangkan pendeteksi ujaran kebencian dan bahasa kasar yang diciutkan para pengguna Twitter dengan bantuan AI. Seperti apa detailnya? Simak rangkuman informasi berikut.

 

Bisa Dipakai untuk Melakukan Investigasi Kejahatan Siber

Dua peneliti dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) Muhammad Okky Ibrohim dan Indra Budi tengah mengembangkan pendeteksi ujaran kebencian dan bahasa kasar yang dipakai oleh para warganet Indonesia di Twitter. Letak kecanggihannya terletak pada pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial atau lebih dikenal dengan sebutan Artificial Intelligence (AI). Kelak, hasil penelitian tersebut bisa dimanfaatkan oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri dalam membantu melakukan investigasi kejahatan siber di Indonesia. AI membantu mendeteksi ujaran kebencian yang bisa dipidana.

 

Adanya kombinasi fitur Word Unigram, Random Forest Decision Tree (RFDT), dan Label Power-set (LP) bisa mendeteksi adanya bahasa kasar dan ujaran kebencian yang dicuitkan di Twitter dengan tingkat akurasi 77,36 persen. Melalui Twitter Search API, sebanyak 7.608 cuitan tidak mengandung unsur ujaran kebencian, sementara 5.561 cuitan dari 13.169 tweet merupakan ujaran kebencian.

 

Ujaran Kebencian Terbagi dalam Beberapa Tingkatan

Riset yang dilakukan oleh kedua peneliti Fasilkom UI tersebut mengkategorikan ujaran kebencian menjadi lima bagian, yaitu agama, ras, fisik, gender atau orientasi seksual dan umpatan lainnya. Nantinya, hasil dari pendeteksian tersebut bisa turut mengklasifikasikan target, kategori, hingga level ujaran kebencian itu sendiri.

 

Ujaran kebencian terbagi menjadi ke dalam tiga tingkatan. Pertama, weak hate speech, kata umpatan yang ditujukan pada individu tanpa adanya unsur provokasi. Kedua, moderate hate speech yang ditujukan pada kelompok tanpa provokasi. Ketiga adalah strong hate speech, yaitu level umpatan yang memprovokasi dan berpotensi memancing konflik.

 

Okky sebagai salah satu peneliti yang terjun dalam pengembangan riset ini menyatakan, “Penelitian kami berangkat dari maraknya ujaran kebencian dan penggunaan bahasa kasar pada media sosial, khususnya Twitter, yang sangat berpotensi menimbulkan konflik antar individu maupun kelompok,” pada Senin (30/11/2020).

 

Ada Banyak Pihak yang Terlibat

Tak sedikit dari ujaran kebencian yang dilontarkan dipakai untuk menyerang individu maupun kelompok dengan penggunaan bahasa kasar. Pemanfaatan AI ini diharapkan bisa bermanfaat untuk mendeteksi masalah tersebut dan punya peranan penting dalam membantu investigasi kejahatan siber di Indonesia. “Saat ini, kami terus berupaya mengembangkan pemanfaatan AI untuk deteksi hate speech. Kami berharap, dengan adanya alat bantu teknologi, maka akan semakin mempermudah tim melakukan investigasi kejahatan siber,” tambah Okky.

 

Peneliti tidak melakukan riset ini secara mandiri. Mereka didampingi oleh seorang linguis yang membantu untuk memvalidasi definisi ujaran kebencian secara tepat sehingga investigasinya bisa dilakukan secara maksimal. Okky juga menjelaskan bahwa definisi yang digunakan maupun panduan anotasi dilakukan berdasarkan buku bahasa sosial dan handbook ujaran kebencian. Setelah itu dilakukan validasi oleh para ahli melalui wawancara dan diskusi kelompok bersama staf Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse dan Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia (Bareskrim Polri).

 

Saat ini, perkembangan Indonesia dalam memberantas kejahatan dunia siber semakin canggih karena menggunakan teknologi artificial intelligence (AI). Kamu yang tertarik untuk terjun di bidang ini, bisa mengambil program S1 Cyber Security di IDS Digital College. Daftarkan dirimu dari sekarang!

Posted in: News


error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

WhatsApp chat