Keren! Sekarang Start up Indonesia Punya Akses ke Sillicon Valley - IDS Digital College

Keren! Sekarang Start up Indonesia Punya Akses ke Sillicon Valley

Start up Indonesia berkolaborasi dengan Draper University, perguruan tinggi yang berlokasi di Sillicon Valley, California, AS. Ada 50 mentor yang ahli dalam perusahaan rintisan di Sillicon Valley yang siap mendampingi. 

Melalui kelas virtual dan pendampingan secara daring, pelaku usaha rintisan atau start up Indonesia dapat bertukar pikiran dengan mentor-mentor di Sillicon Valley, Amerika Serikat. Pendampingan ini akan menekankan kearifan lokal yang diusung para pelaku usaha rintisan di Tanah.

Berbagai strategic partner ( global incubator network ) dari Sillicon Valley, untuk membuka akses yang bermanfaat bagi para digitalpreneur Indonesia. 

Telkom mengembangkan kurikulum inkubator yang mencerminkan kebutuhan Indonesia Digital Community, memberikan masukan bagaimana kah menjalankan program incubator yang sangat baik, sampai dengan Demo-Day untuk menunjukan perkembangan Star Up yang lulus dari program inkubasi. 

Sementara untuk keterkaitan dengan para mentor dan pelatihan di Indonesia Digital Community mengundang expert dari Sillicon Valley ke Indonesia untuk melakukan pelatihan dengan sangat penuh di Indonesia Digital Community dan mengirimkan staf ke Sillicon Valley untuk beberapa minggu. 

Telkom juga menyediakan mentor tamu (visiting mentor) dari beberapa top founder di Sillicon Valley untuk memberikansesi privat sebagai inspirasi serta melakukan pelatihan privat kepada pebisnis star up di Indonesia. 

Kemudian tersedia pula langkah Co-working and Deal Feed. Melalui pengiriman personel ke lokasi kerja mitra strategis di Sillicon Valley, para pebisnis star up digital bisa mempelajari lanskap dan ekosistem, serta membangun jaringan ke seluruh komunitas Silicon Valley dan membawa kembali inovasi itu ke Indonesia.

Telkom juga mengadakan Demo-Day bagi para star up binaan dengan mengundang investor, korporasi, komunitas keuangan dan venture capital. 

Program follow on funding pun turut hadir untuk membantu start up yang sudah lulus inkubasi mendapatkan investasi lebih lanjut. 

Star up terbaik akan mendapatkan kesempatan untuk diinkubasi , bertemu langsung dengan luminary dan entrepreneur di kantor partner yang berpusat di Sillicon Valley dan mengadakan pitch meeting dengan investor dari Sillicon Valley. 

Untuk mendukung star up indonesia agar mampuberkembang dan bersaik di skala global, diperlukan pembentukan ekosistem digital yang menunjang para start up. 

Peluang Indonesia untuk jadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara semakin besar sejak Kibar Kreasi Indonesia ikut membuka jalan bagi startup lokal untuk berguru langsung di Silicon Valley.

Akses bagi seribu startup untuk menuju kesuksesan jadi kian terbuka lebar setelah Kibar dan GSVlabs menandatangani nota kesepahaman untuk kerja sama akselerasi pembinaan usaha rintisan digital tersebut.

Hal ini merupakan kesinambungan dari pertemuan Presiden Joko Widodo dengan beberapa inkubator dan akselerator di Silicon Valley belum lama ini yang juga ikut dijembatani oleh CEO Kibar Kreasi Indonesia Yansen Kamto.

Kibar sendiri merupakan perusahaan yang getol membangun ekosistem startup di Indonesia. Kiprah Kibar antara lain bisa dilihat melalui inkubator startup Innovative Academy di Yogyakarta dan Start Surabaya di Surabaya.

Kerja sama dengan GSVlabs tersebut merupakan salah satu langkah penting dalam menyukseskan program seribu startup yang telah dicanangkan oleh pemerintah Indonesia. Selain itu, Kibar juga tengah membangun 10 innovation hub di 10 kota di Indonesia.

Nantinya, kata Yansen, kerjasama ini akan berwujud sebuah akselerator startup yang berbasis di Indonesia. Targetnya, akan ada 20 startup Indonesia yang mengikuti program akselerasi selama tiga bulan.

“Bulan pertama program itu akan diadakan di Indonesia, bulan kedua di GSVlabs, Silicon Valley, dan lanjut bulan ketiga kembali di Indonesia,” papar pria berkepala plontos yang gemar bercelana pendek ini.

Program akselerasi itu juga dikatakan bakal menggandeng rekanan korporasi di Indonesia. “Korporasi yang kami gandeng tentunya harus punya visi, misi dan hati untuk memajukan entrepreneurship di Indonesia,” tukasnya.

Sementara GSVlabs saat ini telah menginkubasi lebih dari 150 perusahaan. Ia juga merupakan rekanan Google, melalui program Pioneer Accelarator bersama Google Launchpad yang tiap tahunnya mengakselerasi sekitar 60 perusahaan startup.

GSVlabs sendiri merupakan bagian dari Global Silicon Valley, yang mencakup perusahaan bernama GSV Asset Management yang berinvestasi di Lyft, Spotify, Facebook dan Snapchat.

“Kami sangat bersemangat untuk menjadi rekanan Kibar dan menantikan kerja sama untuk membantu Indonesia mencapai target seribu teknopreneur di 2020,” ujar Bobby Amiri, Director of Global Business Development GSVlabs.

Saat ini GSVlabs telah melakukan kerja sama dengan India, melalui Times of India untuk membuat akselerator di Bangalore dan Mumbai. Sedangkan di Sao Paulo, Brasil, mereka menggandeng Bank of Brazil dan Mapfre Seguros.

“Indonesia adalah negara yang sedang menuju puncak perwujudan potensinya dan melalui hubungan kami bersama Kibar, kami yakin bisa bersama-sama mengembangkan ekosistemnya menjadi salah satu yang terkuat di dunia,” Bobby menambahkan.

Kerjasama Kibar dan GSVlabs diharapkan bisa membuka akses yang lebih baik dari perusahaan rintisan digital di Indonesia ke Silicon Valley. Ibaratnya, kerjasama ini akan membuka sebuah ‘jalan tol’ akselerasi startup.

“Melalui kerjasama ini, startup Indonesia telah dibukakan akses untuk menjadi pemain global. Pokoknya, jalan tolnya sudah kami siapkan. Tapi pertanyaannya, apakah startup lokal kita sudah merasa pantas jadi pemain global?” pungkas Yansen.

Posted in: News

Comments (No Responses )

No comments yet.


WhatsApp chat