Mengetahui Sejarah Pengawasan Dunia Maya atau “Cyber Surveillance” Dunia - IDS Digital College

Mengetahui Sejarah Pengawasan Dunia Maya atau “Cyber Surveillance” Dunia

Perkembangan teknologi saat ini sangatlah cepat. Terutama di dunia internet, masalah keamanan seringkali menjadi hal utama yang paling sering diperhatikan. Karena dengan semakin berkembangnya teknologi, maka kemungkinan kasus pencurian dan penjualan data oleh pihak yang tidak bertanggung jawab semakin marak terjadi. Di Indonesia sendiri, masalah penyalahgunaan data sering terjadi dan mulai meresahkan para pengguna internet dan media sosial. Salah satu faktor penyebabnya yaitu karena lemahnya tingkat cyber security Indonesia. Namun, tahukah kamu bagaimana sejarah tentang cyber surveillance atau cyber crime? Berikut penjelasannya! Sejarah Cyber Surveillance Dunia Pada pelantikan Presiden Trump berhembus kabar bahwa Rusia ikut campur dalam pemilihan presiden Amerika tersebut. Ada beberapa media liputan yang menyoroti penggunaan disinformasi dan skandal Rusia dalam mempengaruhi pemilihan presiden AS dan referendum Brexit di Inggris. Perlu diingat bahwa AS telah lama memperoleh, menggunakan dan menyalahgunakan informasi tentang musuh dan sekutunya. Namun, sudah lebih dari satu abad, Washington menggunakan taktik serupa untuk menjalankan kekuatan globalnya. Dimulai saat pengamanan Filipina tahun 1898 hingga cyber surveillance yang baru-baru ini terjadi. Dalam upayanya merebut Filipina dari Spanyol, Amerika telah menggunakan sistem informasi telepon, telegraf, dan mesin tabulasi otomatis canggih. Di bawah pimpinan Kapten Ralph Van Deman, yang dijuluki sebagai “bapak intelijen militer AS, tentara AS membentuk unit intelijen lapangan yang bertugas untuk mengumpulkan data terperinci tentang penampilan, keuangan dan loyalitas setiap orang Filipina yang berpengaruh. Sejalan dengan hal tersebut, rezim kolonial Amerika membuat sebuah kepolisian yang bertugas untuk mengontrol total segala informasi, mendiskreditkan para pembangkang dan menekan skandal untuk melindungi para sekutu. Memasuki Perang Dunia Pertama, AS kembali menugaskan VaN Deman untuk mendirikan Divisi Intelijen. Dengan staf sebanyak 1.700 orang dan 350.000 warga, Van Deman mampu meluncurkan pengawasan intensif terhadap subversif domestik yang merupakan program paling luas di dunia pada saat itu. Kemudian sistem informasi tersebut terus berkembang, hingga pada tahun 1946, Badan Keamanan Nasional (NSA) dan mitranya dari Inggris, GCHQ, membangun pengawasan sinyal di seluruh dunia melalui Koalisi Lima Mata, yaitu AS, Inggris, Australia, Selandia Baru dan Kanada. Pada tahun 2001, Washington menggabungkan teknologi baru seperti pengawasan elektronik, ID biometrik, dan inovasi kedirgantaraan menjadi rezim informasi digital. Hasilnya, tahun 2008, tentara AS telah mengumpulkan lebih dari satu juta sidik jari Irak dan pemindaian iris mata yang dapat diakses oleh patroli tempurnya melalui tautan satelit ke AS. Tak hanya Irak, teknologi ini juga sampai di Afghanistan. Tahun 2009, NSA telah mengumpulkan perangkat teknologi superkomputer yang mampu untuk menyapu miliaran komunikasi di seluruh dunia. Selanjutnya, pada tahun 2013, New York Times melaporkan bahwa ada lebih dari 1.000 target pengawasan Amerika dan Inggris dalam beberapa tahun terakhir, termasuk para pemimpin Prancis dan Jerman. Namun perkembangan teknologi pengawasan elektronik ini mulai menjadi semacam “perang digital”. Pasalnya tahun 2009, Washington mempersenjatai internetnya dengan menyebarkan virus komputer terhadap fasilitas nuklir Iran. Rusia juga menggunakan serangan cyber untuk melumpuhkan komputer Georgia pada tahun 2008 dan menonaktifkan jaringan listrik Ukraina. Selanjutnya tahun 2011 Intelijen Iran meretas navigasi drone super rahasia CIA dan memaksanya mendarat untuk ditampilkan kepada publik Iran Utara. Kemudian pada tahun 2016, Rusia mencoba untuk mempengaruhi pemilu AS dan mencuri beberapa alat cyber rahasia NSA. Bagaimana menurutmu, teknologi pengawasan dunia maya atau cyber surveillance yang diciptakan berabad-abad lalu ternyata dapat memicu perang digital yang sangat berbahaya. Nampaknya pada tahun-tahun mendatang, pengawasan dunia maya akan terus menjadi hal yang biasa. Bagi kamu yang tertarik dengan dunia keamanan digital, Jurusan Sistem Informasi di IDS Digital College aja! Kamu bisa belajar untuk menciptakan sistem keamanan baru agar cyber security Indonesia semakin kuat.

Perkembangan teknologi saat ini sangatlah cepat. Terutama di dunia internet, masalah keamanan seringkali menjadi hal utama yang paling sering diperhatikan. Karena dengan semakin berkembangnya teknologi, maka kemungkinan kasus pencurian dan penjualan data oleh pihak yang tidak bertanggung jawab semakin marak terjadi. Di Indonesia sendiri, masalah penyalahgunaan data sering terjadi dan mulai meresahkan para pengguna internet dan media sosial. Salah satu faktor penyebabnya yaitu karena lemahnya tingkat cyber security Indonesia. Namun, tahukah kamu bagaimana sejarah tentang cyber surveillance atau cyber crime? Berikut penjelasannya!

Sejarah Cyber Surveillance Dunia

Pada pelantikan Presiden Trump berhembus kabar bahwa Rusia ikut campur dalam pemilihan presiden Amerika tersebut. Ada beberapa media liputan yang menyoroti penggunaan disinformasi dan skandal Rusia dalam mempengaruhi pemilihan presiden AS dan referendum Brexit di Inggris. Perlu diingat bahwa AS telah lama memperoleh, menggunakan dan menyalahgunakan informasi tentang musuh dan sekutunya.

Namun, sudah lebih dari satu abad, Washington menggunakan taktik serupa untuk menjalankan kekuatan globalnya. Dimulai saat pengamanan Filipina tahun 1898 hingga cyber surveillance yang baru-baru ini terjadi. Dalam upayanya merebut Filipina dari Spanyol, Amerika telah menggunakan sistem informasi telepon, telegraf, dan mesin tabulasi otomatis canggih. 

Di bawah pimpinan Kapten Ralph Van Deman, yang dijuluki sebagai “bapak intelijen militer AS, tentara AS membentuk unit intelijen lapangan yang bertugas untuk mengumpulkan data terperinci tentang penampilan, keuangan dan loyalitas setiap orang Filipina yang berpengaruh. Sejalan dengan hal tersebut, rezim kolonial Amerika membuat sebuah kepolisian yang bertugas untuk mengontrol total segala informasi, mendiskreditkan para pembangkang dan menekan skandal untuk melindungi para sekutu.

Memasuki Perang Dunia Pertama, AS kembali menugaskan VaN Deman untuk mendirikan Divisi Intelijen. Dengan staf sebanyak 1.700 orang dan 350.000 warga, Van Deman mampu meluncurkan pengawasan intensif terhadap subversif domestik yang merupakan program paling luas di dunia pada saat itu. Kemudian sistem informasi tersebut terus berkembang, hingga pada tahun 1946, Badan Keamanan Nasional (NSA) dan mitranya dari Inggris, GCHQ, membangun pengawasan sinyal di seluruh dunia melalui Koalisi Lima Mata, yaitu AS, Inggris, Australia, Selandia Baru dan Kanada.

Pada tahun 2001, Washington menggabungkan teknologi baru seperti pengawasan elektronik, ID biometrik, dan inovasi kedirgantaraan menjadi rezim informasi digital. Hasilnya, tahun 2008, tentara AS telah mengumpulkan lebih dari satu juta sidik jari Irak dan pemindaian iris mata yang dapat diakses oleh patroli tempurnya melalui tautan satelit ke AS. Tak hanya Irak, teknologi ini juga sampai di Afghanistan.

Tahun 2009, NSA telah mengumpulkan perangkat teknologi superkomputer yang mampu untuk menyapu miliaran komunikasi di seluruh dunia. Selanjutnya, pada tahun 2013, New York Times melaporkan bahwa ada lebih dari 1.000 target pengawasan Amerika dan Inggris dalam beberapa tahun terakhir, termasuk para pemimpin Prancis dan Jerman.

Baca Juga : Trik Jitu Merancang Detection dan Response untuk Cegah Cyber Attack

Namun perkembangan teknologi pengawasan elektronik ini mulai menjadi semacam “perang digital”. Pasalnya tahun 2009, Washington mempersenjatai internetnya dengan menyebarkan virus komputer terhadap fasilitas nuklir Iran. Rusia juga menggunakan serangan cyber untuk melumpuhkan komputer Georgia pada tahun 2008 dan menonaktifkan jaringan listrik Ukraina. Selanjutnya tahun 2011 Intelijen Iran meretas navigasi drone super rahasia CIA dan memaksanya mendarat untuk ditampilkan kepada publik Iran Utara. Kemudian pada tahun 2016, Rusia mencoba untuk mempengaruhi pemilu AS dan mencuri beberapa alat cyber rahasia NSA. 

Bagaimana menurutmu, teknologi pengawasan dunia maya atau cyber surveillance yang diciptakan berabad-abad lalu ternyata dapat memicu perang digital yang sangat berbahaya. Nampaknya pada tahun-tahun mendatang, pengawasan dunia maya akan terus menjadi hal yang biasa. Bagi kamu yang tertarik dengan dunia keamanan digital, Jurusan Sistem Informasi di IDS Digital College aja! Kamu bisa belajar untuk menciptakan sistem keamanan baru agar cyber security Indonesia semakin kuat.

Posted in: News


error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

WhatsApp chat