Minimnya Akselerasi Membuat Startup di Indonesia Banyak yang Tumbang di Tengah Jalan - IDS Digital College

Minimnya Akselerasi Membuat Startup di Indonesia Banyak yang Tumbang di Tengah Jalan

 

Startup memang menjadi sebuah tren yang cukup berkembang pesat beberapa tahun belakangan ini di Indonesia. Terlihat dari banyaknya perusahaan startup yang menjamur di kota-kota besar yang ada di Indonesia. Namun sayangnya, tidak sedikit yang juga tumbang karena belum memiliki pondasi yang kuat. 

 

Startup Indonesia sebenarnya memiliki banyak inovasi baru, hanya saja dalam pelaksanaannya banyak yang belum terstruktur dan minim akselerasi. Ketidaksiapan dalam menghadapi pasar inilah yang membuat banyak startup tumbang di tengah jalan. Minimnya pengetahuan tentang cara mengendalikan pasar dan mengetahui keinginan pasar membuat jalan untuk memulai startup terlihat susah. Padahal sebenarnya hal ini bisa diatasi dengan inkubator dan akselerator bisnis. 

 

Program akselerasi biasanya menyasar startup dengan produk yang lebih matang, namun masih membutuhkan validasi untuk diturunkan ke pasar. Kemudian untuk inkubasi berfokus pada proses penyempurnaan ide dan produk. Sayangnya inkubator di Indonesia hanya terbatas sebanyak 130 saja. Mengingat banyaknya startup baru yang berdiri setiap tahunnya, jumlah itu tidak mampu mewadahi pertumbuhan startup baru. Hal ini mengakibatkan ekosistem startup Indonesia menjadi tidak stabil dan memberikan resiko yang lebih besar untuk kegagalan saat produk startup meluncur di pasaran. 

 

Sebenarnya pemerintah Indonesia telah mengupayakan untuk menghasilkan perusahaan berstatus unicorn sejak 2016 silam. Namun sayangnya hanya beberapa yang mampu bertahan dan mendapatkan gelar itu. 

 

Melansir dari tirto.id, laporan CB insight pada Oktober 2020 merilis nama-nama startup lokal yang mencatatkan valuasi tinggi. Beberapa diantaranya adalah Gojek dengan valuasi sebanyak USD 10 miliar, Tokopedia dengan valuasi sebanyak USD 7 miliar, Traveloka sebesar USD 3 miliar, hingga OVO dengan valuasi sebesar 2 miliar. 

 

Meskipun telah dibantu oleh pemerintah, namun hal itu tidak cukup untuk membantu seluruh pelaku industri startup di Indonesia. Mereka yang tidak mampu bertahan terpaksa tumbang karena ketidakmampuan dan ketidakpastian dalam menghadapi pasar. Meskipun seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, hal ini bisa diantisipasi dengan adanya inkubator dan akselerator bisnis yang memadai. 

 

Mantan Menkominfo Rudiantara pernah menyinggung tentang kegagalan ini, menurutnya startup lokal terlalu terburu-buru dalam meluncurkan produknya tanpa memvalidasi pasar terlebih dahulu. “Kebanyakan di Indonesia banyak yang techno savvy tapi mereka lupa terhadap market. Ada nggak pasarnya? We need to validate the market,” ujar Rudiantara.

 

Karena sebenarnya keberadaan startup sangat strategis dalam menopang UMKM di Indonesia, karena itu inkubator sangatlah diperlukan untuk menopang bisnis startup di Indonesia saat ini. Namun sayangnya, inkubator di Indonesia yang hanya terbatas sebanyak 130 ini tidak memiliki bidang fokus industri atau teknologi yang spesifik. Apalagi kebanyakan dimiliki oleh perguruan tinggi, yang berarti inkubator tidak dapat digunakan secara optimal untuk merancang program dan bentuk dukungan yang sesuai untuk banyaknya startup baru yang ada di seluruh Indonesia.

Posted in: News


error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

WhatsApp chat