Serangan Siber Menggunakan AI Makin Mengancam - IDS Digital College

Serangan Siber Menggunakan AI Makin Mengancam

Serangan siber tak akan pernah berakhir selama perangkat komputer masih terhubung ke internet. Terlebih selama pandemi Corona, kejahatan siber terus meningkat dengan beberapa tipe dan jenis. Mengerikannya lagi, keberadaan serangan siber menggunakan kecerdasan buatan (AI) makin mengancam. Hal ini tentu membuat sistem cyber security Indonesia harus ditingkatkan. Simak informasi lengkapnya, ya. AI Digunakan untuk Serangan Siber yang Lebih Canggih Lembaga riset siber Indonesia CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) menyebut bahwa serangan siber akan menyerang menggunakan kecerdasan buatan dan menjadikannya lebih berbahaya. Ketua dari CISSReC, Pratama Persadha mengatakan bahwa peretas memanfaatkan AI agar malware, ransomware, virus, hingga trojan bisa terus berkembang dan memperbaiki kelemahannya untuk melawan anti virus. “Perkembangan AI memang sangat menggembirakan, bahkan menjadi solusi di berbagai tempat. Namun kita juga wajib antisipasi bahwa AI digunakan untuk mengembangkan perangkat serangan siber yang lebih canggih, sebuah parasit di wilayah siber yang bisa berpikir seperti manusia," kata Pratama dikutip dari CNN Indonesia. Kejahatan yang Meningkat Lewat IoT Perkembangan AI memang membawa banyak manfaat dalam mendorong perkembangan industri, namun juga turut digunakan untuk serangan siber. Pada tahun 2020 lalu, serangan siber lewat Internet of Things (IoT) diprediksi akan meningkat. Keunggulan dari IoT yaitu dapat menghubungkan berbagai perangkat satu sama lain dalam menciptakan celah bagi peretas agar bisa masuk ke jaringan bisnis. Maraknya perangkat terhubung satu sama lain bisa menciptakan celah bagi penyerang untuk membajak perangkat ini untuk menyusup ke jaringan bisnis," ujar Pratama. Pada tahun 2020 lalu, ancaman terhadap keberlangsungan pilkada juga bisa berasal dari wilayah siber. AI dimanfaatkan untuk menyebarkan ujaran kebencian dan hoaks yang membahayakan situasi kondusif pada pilkada serentak. Tren Hoaks Diperkirakan Makin Canggih Adanya teknologi deepfake, dapat digunakan untuk membuat video palsu yang menyerupai aslinya. Pembuatan video palsu tersebut dapat memanipulasi wajah dan suara seseorang. Sehingga, diperkirakan kalau tren hoaks semakin canggih. Kemungkinan besar bisa bermunculan video yang dibuat mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan. Sayangnya, kejahatan siber semacam ini dikembangkan menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence) AI. Edukasi Cyber Security Indonesia Masih Minim Edukasi ke masyarakat terkait cyber security Indonesia dan potensi kejahatan siber masih dianggap minim. Dikarenakan hal itu, angka peretasan phising yang juga dibungkus melalui rekayasa sosial juga tinggi. Bahkan, Kaspersky menyatakan bahwa ada 14 juta upaya phising hanya di Asia Tenggara sepanjang paruh pertama 2019. Saat ini, makin banyak yang sadar bahwa manipulasi tidak hanya bisa dilakukan di sistem web, aplikasi, dan jaringan, tapi juga dilakukan terhadap korban yang minim pengetahuan teknologi informatika. Peretasan dengan Kode OTP Peretas banyak memanfaatkan celah keamanan dengan meminta OTP melalui SMS atau telepon. Praktek ini termasuk jenis praktek rekayasa sosial yang sering dilakukan dengan berbagai modus. “Baik pihak perbankan, marketplace dan siapapun yang berbisnis dengan internet serta aplikasi harus memperhatikan ini. Aspek penguatan keamanan siber tidak hanya di teknis, namun juga edukasi ke masyarakat, sehingga memperkecil peluang penipuan," sebut Pratama. Indonesia harus berbenah diri dalam menghadapi ancaman siber dan digitalisasi yang bisa mengancam siapa saja. Kamu bisa mulai mempelajari tentang cyber security Indonesia dengan bersekolah di IDS Digital College. Dengan begini, kamu mengambil peran dalam meningkatkan pengetahuan dan awareness masyarakat akan kejahatan siber. Temukan informasi lebih lanjut dengan cek website kami, ya!

Serangan siber tak akan pernah berakhir selama perangkat komputer masih terhubung ke internet. Terlebih selama pandemi Corona, kejahatan siber terus meningkat dengan beberapa tipe dan jenis. Mengerikannya lagi, keberadaan serangan siber menggunakan kecerdasan buatan (AI) makin mengancam. Hal ini tentu membuat sistem cyber security Indonesia harus ditingkatkan. Simak informasi lengkapnya, ya. 

AI Digunakan untuk Serangan Siber yang Lebih Canggih

Lembaga riset siber Indonesia CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) menyebut bahwa serangan siber akan menyerang menggunakan kecerdasan buatan dan menjadikannya lebih berbahaya. Ketua dari CISSReC, Pratama Persadha mengatakan bahwa peretas memanfaatkan AI agar malware, ransomware, virus, hingga trojan bisa terus berkembang dan memperbaiki kelemahannya untuk melawan anti virus. 

“Perkembangan AI memang sangat menggembirakan, bahkan menjadi solusi di berbagai tempat. Namun kita juga wajib antisipasi bahwa AI digunakan untuk mengembangkan perangkat serangan siber yang lebih canggih, sebuah parasit di wilayah siber yang bisa berpikir seperti manusia,” kata Pratama dikutip dari CNN Indonesia. 

Kejahatan yang Meningkat Lewat IoT

Perkembangan AI memang membawa banyak manfaat dalam mendorong perkembangan industri, namun juga turut digunakan untuk serangan siber. Pada tahun 2020 lalu, serangan siber lewat Internet of Things (IoT) diprediksi akan meningkat. 

Keunggulan dari IoT yaitu dapat menghubungkan berbagai perangkat satu sama lain dalam menciptakan celah bagi peretas agar bisa masuk ke jaringan bisnis. Maraknya perangkat terhubung satu sama lain bisa menciptakan celah bagi penyerang untuk membajak perangkat ini untuk menyusup ke jaringan bisnis,” ujar Pratama.

Pada tahun 2020 lalu, ancaman terhadap keberlangsungan pilkada juga bisa berasal dari wilayah siber. AI dimanfaatkan untuk menyebarkan ujaran kebencian dan hoaks yang membahayakan situasi kondusif pada pilkada serentak. 

Tren Hoaks Diperkirakan Makin Canggih

Adanya teknologi deepfake, dapat digunakan untuk membuat video palsu yang menyerupai aslinya. Pembuatan video palsu tersebut dapat memanipulasi wajah dan suara seseorang. Sehingga, diperkirakan kalau tren hoaks semakin canggih. 

Baca Juga: Cyber Crime Mulai Mengintai Email dan Medsos, Begini Cara Melindunginya!

Kemungkinan besar bisa bermunculan video yang dibuat mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan. Sayangnya, kejahatan siber semacam ini dikembangkan menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence) AI. 

Edukasi Cyber Security Indonesia Masih Minim

Edukasi ke masyarakat terkait cyber security Indonesia dan potensi kejahatan siber masih dianggap minim. Dikarenakan hal itu, angka peretasan phising yang juga dibungkus melalui rekayasa sosial juga tinggi. Bahkan, Kaspersky menyatakan bahwa ada 14 juta upaya phising hanya di Asia Tenggara sepanjang paruh pertama 2019.

Saat ini, makin banyak yang sadar bahwa manipulasi tidak hanya bisa dilakukan di sistem web, aplikasi, dan jaringan, tapi juga dilakukan terhadap korban yang minim pengetahuan teknologi informatika. 

Peretasan dengan Kode OTP

Peretas banyak memanfaatkan celah keamanan dengan meminta OTP melalui SMS atau telepon. Praktek ini termasuk jenis praktek rekayasa sosial yang sering dilakukan dengan berbagai modus. 

“Baik pihak perbankan, marketplace dan siapapun yang berbisnis dengan internet serta aplikasi harus memperhatikan ini. Aspek penguatan keamanan siber tidak hanya di teknis, namun juga edukasi ke masyarakat, sehingga memperkecil peluang penipuan,” sebut Pratama.

Indonesia harus berbenah diri dalam menghadapi ancaman siber dan digitalisasi yang bisa mengancam siapa saja. Kamu bisa mulai mempelajari tentang cyber security Indonesia dengan bersekolah di IDS Digital College. Dengan begini, kamu mengambil peran dalam meningkatkan pengetahuan dan awareness masyarakat akan kejahatan siber. Temukan informasi lebih lanjut dengan cek website kami, ya!

Posted in: News


error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

WhatsApp chat