Berkenalan dengan IDEAS, AI Terbaru Microsoft yang Mempermudah Proses Penulisan - IDS Digital College

Berkenalan dengan IDEAS, AI Terbaru Microsoft yang Mempermudah Proses Penulisan

Bagi karyawan yang bekerja di dunia media serta pemasaran tidak akan jauh dari pembuatan tulisan. Entah dalam bentuk novel, cerpen, artikel, atau sebuah press release. Untuk memudahkan dalam proses penulisan, kebutuhan akan fitur pengoreksi typo serta kosakata sangat penting. Belakangan, fitur tersebut sudah banyak melengkapi aplikasi editor. Bahkan, baru-baru ini Microsoft meluncurkan kembali dengan format lebih canggih. Namanya Ideas yang siap untuk dicoba. Seperti apa AI atau artificial intelligence editor terbaru dari Microsoft ini? Berikut ulasan lengkapnya. 

Fitur Ideas yang Cukup Canggih

Pengumuman peluncuran Ideas disampaikan oleh Microsoft dalam konferensi Build. Ideas sendiri merupakan versi online Word yang akan disematkan di Microsoft Word. Fitur ini diakui memiliki keunggulan dalam membantu proses penulisan yang memudahkan pengguna saat menemukan kesulitan dalam menulis. Ideas juga memungkinkan tulisan cerita kamu lebih baik dan menghasilkan dokumen lebih halus. Beberapa kelebihannya yaitu memperbaiki kesalahan tata bahasa, kesalahan pengejaan serta pemeriksaan tata bahasa yang lebih logis. Bahkan, ada mesin yang menyarankan pemilihan frasa lebih jelas.

Berdasarkan lamas AsiaOne, jika fitur ini mengubah sebagian kalimat, Ideas akan menyarankan pengguna untuk menulis ulang kalimat tersebut. Kemampuannya bisa membantu pengguna menulis lebih inklusif. Hasil dokumen juga lebih mudah dibaca. Ideas bisa menunjukkan informasi perkiraan waktu membaca yang dapat memberikan gambaran kasar pada pengguna mengenai waktu baca untuk satu dokumen.

Bagi pengguna yang hanya memakai Microsoft Word sebagai media mengetik laporan anggaran tahunan memang tidak terlalu berpengaruh. Namun, fitur ini sangat berguna dan bermanfaat bagi wartawan atau pemasar.

Implementasi Fitur AI di Indonesia

Pengaplikasian artificial intelligence atau AI di Indonesia terbilang belum optimal. Berdasarkan survey pada seratus lebih pemimpin bisnis dan karyawan oleh IDC Asia/Pasifik dan Microsoft Indonesia tingkat ketertarikan memakai AI masih kurang. Survei dengan nama “Future Ready Business : Assessing Asia Pacific’s Growth Potential Through AI” hanya 14% perusahaan yang mengadopsi AI. Rendahnya angka tersebut disebabkan oleh perbedaan pandangan antara pemimpin dan karyawan. Belum lagi jumlah pekerja yang skeptis dengan adopsian artificial intelligence di perusahaannya. 

Pun demikian, ternyata masih ada perusahaan yang berencana memakai kecerdasan buatan dalam menjalankan aktivitas bisnis. Setidaknya ada 42% yang berencana adopsi dan mulai bereksperimen. Tidak hanya perusahaan, pemerintah juga mulai melirik pengaplikasian kecerdasan buatan tersebut.

Untuk mengoptimalkan pengaplikasian AI, Microsoft Indonesia telah melakukan beberapa cara untuk membantu meningkatkan adopsi AI. Bahkan ada program bertajuk “Digital Talent Scholarship” yang bekerja sama dengan Kominfo di tahun 2018 sebagai media pelatihan kepada dosen dari ITB, UI, UGM dan ITS. Beberapa kompetensi yang diajarkan yaitu AI, Cloud Computing, Cyber security, Big Data, dan Bisnis Digital. Dosen tersebut akan memberikan pelatihan bersertifikasi kepada 1000 mahasiswa terpilih yang diseleksi Kominfo. Jika berhasil, program tersebut berlanjut hingga menargetkan 20.000 peserta. 

Sebenarnya, kurang optimalnya AI di Indonesia tidak hanya soal pelatihan yang kurang. Namun, juga berbagai tantangan berat yang membuat orang enggan untuk mencoba. Selain paradigma negatif yang mengancam pekerjaan manusia, tantangannya yaitu kepemimpinan, kemampuan serta budaya. Ketiganya cukup kuat sehingga penggunaan AI terbilang cenderung susah diaplikasikan.

Adanya Ideas yang dikeluarkan Microsoft tentu menjadi awal baik agar kecerdasan buatan bisa berjalan dengan optimal di Indonesia. Apalagi bagi para karyawan yang bekerja di media atau bidang pemasaran. 

Posted in: News

Comments (No Responses )

No comments yet.


WhatsApp chat