Pemerintah Australia Bikin Undang-Undang yang Memungkinkan Hengkangnya Google Search - IDS Digital College

Pemerintah Australia Bikin Undang-Undang yang Memungkinkan Hengkangnya Google Search

Saat ini, segala hal jadi lebih mudah karena teknologi membantu dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Salah satunya dengan kehadiran mesin pencari Google Search. Namun, berbeda jika kamu tinggal di Australia. Pasalnya, pemerintah di negara tersebut bakal mengesahkan undang-undang baru yang bikin warganya makin kesulitan untuk mengakses Google Search. Kira-kira, undang-undang apa yang diberlakukan? Berikut rangkumannya. 

 

Mengesahkan Undang-Undang News Media Bargaining Code Law

Pemerintah Australia berencana mengesahkan undang-undang baru bernama News Media Bargaining Code Law. Undang-undang tersebut mewajibkan perusahaan teknologi seperti Google dan Facebook untuk membayar komisi kepada perusahaan media, untuk setiap artikel berita yang muncul di cuplikan (snippet) dan tautan Google Search. 

 

Sebelum dibahas oleh parlemen Australia pada 15 Februari 2021 lalu, anggota komite telah merekomendasikan RUU agar segera disahkan. “Pemerintah berharap semua pihak terus bekerja secara konstruktif untuk mendapatkan persetujuan komersil,” kata bendahara federal, Josh Frydenberg. Google menolak usulan tersebut, namun tetap memberikan dua pilihan. Pertama, meminta pemerintah untuk mengubah undang-undang atau Google Search hengkang dari Australia. 

 

“Setelah melihat undang-undang ini secara rinci serta mempertimbangkan risiko keuangan dan operasional, kami tidak menemukan cara alternatif untuk dapat terus menawarkan layanan kami di Australia,” ucap Mel Silva, Wakil Presiden Google Australia dan Selandia Baru kepada Komite Legislasi Ekonomi Senat Australia. 

 

Google Kuasai Hampir Seluruh Pencarian Internet di Australia 

Nyatanya, Google menguasai 95 persen pencarian internet di Australia. Seorang siswa software engineer, Patrick Smith mencontohkan bahwa orang-orang di sana selalu bergantung pada hasil pencarian Google. Misalnya seperti kebutuhan Smith yang melakukan 400 pencarian di Google dalam sehari untuk membantunya belajar, update berita terkini, bahkan melihat resep. “Kemungkinan tidak adanya Google Search akan sangat mengerikan,” kata Smith. Orang-orang lebih memilih Google karena hasil pencarian yang ditampilkan dinilai jauh lebih akurat dari kompetitornya. 

 

Industri Media Lokal Kehilangan Pendapatan 

Pemerintah Australia memakai alibi Google bahwa industri media lokal kehilangan pendapatan iklan karena perusahaan search engine dan jejaring sosial. Di sisi lain, Google berpendapat bahwa sistemnya mendorong trafik ke situs-situs media. Kewajiban dalam membayar perusahaan media untuk menampilkan cuplikan berita termasuk pelanggaran dari prinsip internet terbuka. Google menolak model arbitrase penawaran akhir dalam menentukan besaran biaya yang harus dibayarkan ke media. Sementara itu, Facebook mengatakan tidak bisa menghentikan orang Australia berbagi berita di platformnya jika undang-undang memang diberlakukan. 

 

Google Berikan Alternatif

Kedua belah pihak yaitu Sundar Pichai dari Google dan Mark Zuckerberg, Facebook masih berusaha untuk berdiskusi dengan Perdana Menteri Australia yaitu Scott Morrison lewat telepon. Google tidak memberikan komentar atas pertemuan tersebut. Tapi sebelumnya, Google memberikan alternatif dengan memberi kompensasi ke perusahaan media lewat produk News Showcase. Nantinya, perusahaan mesin pencarian tersebut akan membayar media-media terpilih untuk mengkurasi konten.

 

Dimanfaatkan Oleh Pesaing

Absensi kehadiran Google menjadi peluang bagi pesaing seperti Bing dan DuckDuckGo untuk membuat pijakan awal menuju level global. Presiden Microsoft, Brad Smith menyampaikan bahwa akan berinvestasi untuk memastikan Bing bisa sebanding dengan pesaingnya. Dalam sebuah blog, Smith mengatakan kalau semestinya Amerika mengadopsi undang-undang Australia yang sedang diperselisihkan. Sementara untuk Partai Hijau (Australian Green Party), mengusulkan pemerintah untuk membuat search engine non-profit sendiri daripada membuka gerbang bagi perusahaan lainnya. Mereka mengatakan, “Kita tidak seharusnya mencari perusahaan raksasa asing lainnya untuk mengisi kekosongan ini (Google),” ujar senator Sarah Hanson-Young. 

 

Undang-undang News Media Bargaining Code Law di Australia tentu akan menyulitkan warganya yang sering mengakses internet lewat Google. Solusi seperti membuat search engine non-profit bisa saja menjadi jalan keluar permasalahan tersebut. Kalau tertarik dengan dunia perangkat lunak, kamu bisa mempelajari ilmunya dengan mengambil program S1 Software Engineering di IDS Digital College.

Posted in: News


error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

WhatsApp chat