Tips Menghindari Pencurian Data Saat Transaksi - IDS Digital College

Tips Menghindari Pencurian Data Saat Transaksi

Cybercrime merupakan sebuah aktivitas kejahatan yang menggunakan komputer untuk melakukan aksi kejahatannya. Cybercrime ada banyak jenisnya yaitu pencurian data, carding, hacking dan cracking, cyber terrorism, malware dan lain lain. 

Pencurian data itu merupakan suatu tindakan ilegal dengan mencuri data orang lain untuk kepentingan diri sendiri atau data tersebut dijual kepada orang lain. Pencurian data ini sangat merugikan orang yang datanya hilang karena tercuri oleh pelaku pencurian data tersebut.

Kerugian apa saja yang akan terjadi jika anda terkena pencurian data ? Ada beberapa hal yang akan terjadi yaitu, data pribadi anda dapat diubah oleh pelaku. Uang anda juga dapat di transferkan dari rekening anda ke rekening pelaku, dan data privasi anda juga dapat disebarluaskan oleh pelaku.

Pencurian data saat kita transaksi apapun juga semakin marak di dunia ini , seperti saat kita menggunakan kartu kredit, atau saat kita melakukan transaksi jual beli online. 

Penggunaan kartu kredit bagi masyarakat adalah hal biasa. Mulai dari belanja kebutuhan harian sampai mencoba kuliner baru di berbagai restoran semua transaksi pembayaran dilakukan dengan kartu kredit. 

Semakin tingginya minat masyarakat terhadap kartu kredit dan semakin banyak jumlah pengguna kartu. Maka resiko munculnya kejahatan yang menyasar pengguna kartu kredit juga semakin besar, salah satunya yaitu pencurian data kartu kredit.

Untuk menghindari pencurian data kartu kredit anda bisa melakukan tips berikut ini :

1. Hati-Hati saat Transaksi Belanja

Pencurian data kartu kredit juga dapat terjadi ketika kita melakukan transaksi menggunakan kartu kredit. Jika melakukan transaksi di merchant perhatikan petugas kasir yang menggesek kartu, jika penggesekan dilakukan lebih dari satu kali Anda wajib waspada. Pastikan juga kartu kredit sudah di tangan ketika Anda meninggalkan toko.

Atau jika mendapati mesin EDC yang terlihat sempit, sehingga hanya ¼ bagian kartu kredit yang dapat masuk ke mesin EDC, Anda wajib waspada karena seringkali kali alat skimming ditempelkan ke bagian mesin EDC dan memakan sebagian besar bagian mesin. Jangan ragu untuk melakukan pengaduan ke pihak toko jika merasa ada proses yang aneh selama transaksi dilakukan.

Sementara jika berbelanja di toko online, kewaspadaan akan virus perlu ditingkatkan. Spyware maupun malware juga sering ditanamkan di situs-situs merchant maupun bank. Karena itu berbelanjalah hanya di situs belanja online yang domainnya sudah terpercaya. Situs yang terpercaya biasanya dilengkapi dengan logo “Verified by Visa” dan “MasterCard SecureCode. Keduanya adalah tanda yang menjamin transaksi Anda akan aman.

Selain memastikan terdapat logo mastercard, transaksi kartu kredit yang aman untuk belanja online juga menerapkan sistem pengiriman OTP (One True Pairing) dari bank penerbit. OTP ini adalah semacam notifikasi pembayaran yang akan dikirimkan lewat sms atau email. Jika OTP yang dikirimkan sudah sesuai transaksi makan Anda akan diarahkan ke halaman situs baru yang menyatakan pembayaran telah sukses.

Sebelum melakukan pembayaran online, pastikan halaman yang digunakan sudah terenkripsi. Caranya adalah lihat pada bagian gambar gembok di baris status (status bar) browser. Pastikan situs tersebut memiliki gambar serupa  sebelum mulai memasukkan informasi pribadi dan data kartu kredit. Situs yang terenkripsi akan otomatis berubah dari http:// menjadi http:// atau https://. Ini artinya informasi pembayaran telah dienkripsi dan lebih aman.

Upayakan untuk tidak belanja online ketika menggunakan jaringan WIFI di tempat umum. Karena aktivitas Anda bisa dipantau oleh orang lain. Data-data pribadi perbankan yang ada dalam internet banking, maupun data rahasia dalam kartu kredit bisa dicuri. Bahkan dalam beberapa kasus pelaku dapat membobol kartu kredit selama Anda sedang transaksi online.

2. Lakukan Pembayaran Sendiri

Jamak terjadi orang-orang yang menyantap makanan di restoran malas beranjak dari kursinya dan meminta pelayan untuk membawakan bill atau total tagihan. Kemudian dengan mudahnya menyerahkan kartu kredit kepada pelayan untuk transaksi membayar tagihan. 

Tindakan ini dapat memunculkan resiko kejahatan seperti pelayan yang mencuri data-data penting kartu kredit seperti nomor pemilik kartu, CVV dan tanggal kadaluarsa. 

Ada jeda ketika pelayan mengambil kartu kredit dan melakukan pembayaran di kasir. Jeda waktu ini bisa digunakan pihak tidak bertanggung jawab untuk mencuri Informasi penting mengenai kartu kredit dan digunakan untuk kepentingan pribadi. 

Dibanding menyerahkan kartu kredit Anda kepada pihak restoran, lebih baik melakukan transaksi sendiri di depan kasir untuk mencegah adanya tindak kejahatan. Jangan ragu untuk melakukan protes ketika kasir terlihat terlalu lama menggesek kartu kredit Anda.

3. Upayakan Membayar dengan Cash

Jika jumlah transaksi terhitung kecil dan dapat dilakukan dengan sistem cash atau tunai, sebaiknya pilih opti ini karena lebih aman. Baik kartu kredit maupun debit sama-sama punya resiko besar dicuri datanya, karena itu upayakan untuk menggunakan kartu kredit bagi transaksi penting saja. 

Walaupun terpaksa menggunakan kartu kredit lengkapi dengan sistem pin dan melindungi kerahasiaan nomor pin. Selalu perhatikan sekeliling karena kamera tersembunyi bisa saja ada disekitar Anda. Tutupi bagian tombol pin selama transaksi untuk menghindari pencurian nomor pin.

4. Melindungi Data Penting

Dalam sebuah kartu kredit berisi segala macam informasi penting yang amat rahasia. Ini berkaitan dengan jumlah limit kartu kredit dan penggunaannya. Data penting yang wajib Anda rahasiakan dari orang lain antara lain Nomor kartu kredit, Nama yang tertera di kartu kredit, Masa berlaku kartu kredit, Kode CVV yang terdapat di kartu kredit Anda. 

Perlu diketahui CVV adalah 3 atau 4 digit kode terakhir yang terdapat di balik kartu kredit. Kode ini berfungsi untuk memverifikasi transaksi yang dilakukan secara online. Kode CVV ini merupakan data yang paling penting dan wajib dilindungi. 

Karena itu setiap kali melakukan transaksi, tutup kode CVV dengan benar. Jangan pernah memperlihatkan bagian belakang kartu kredit kepada orang lain terlebih menggandakannya dengan foto copy.

Kini juga sudah ada teknologi PIN untuk penggunaan kartu kredit. Jadi setiap transaksi tidak memerlukan lagi tanda-tangan nasabah melainkan pin. Cara ini dinilai lebih aman mengingat tanda tangan lebih mudah dipalsukan. 

Bank Indonesia (BI) juga sudah mewajibkan pemegang kartu kredit menggunakan PIN mulai tahun 2020. BI berharap dengan adanya PIN ini dapat mengurangi kejahatan skimming kartu kredit yang semakin marak saja.

Kemudian Anda juga harus waspada jika ada telepon masuk mengatasnamakan pihak kartu kredit. Jangan mudah memberikan data penting mengenai kartu kredit Anda melalui sambungan telepon maupun email. Sebab banyak kasus terjadi ketika Anda memberikan data penting tersebut dalam sekejap pelaku melakukan transaksi hingga isi limit habis.

Posted in: News

Comments (No Responses )

No comments yet.


error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

WhatsApp chat