Wow! Selama Pandemi Jumlah Serangan Siber di Asia Tenggara Meningkat - IDS Digital College

Wow! Selama Pandemi Jumlah Serangan Siber di Asia Tenggara Meningkat

Pandemi ini memang memberikan banyak hal yang tidak terduga, terutama hal-hal yang kurang mengenakkan. Mulai dari PHK besar-besaran dan tutupnya usaha atau perusahaan, akibatnya tingkat pengangguran melonjak di tahun ini. Hal ini mengakibatkan jumlah kejahatan juga semakin meningkat terutama tingkat kejahatan di dunia maya. Cyber crime menjadi semakin menyeramkan.

 

Dilansir dari merdeka.com, terdapat penelitian yang dilakukan oleh Kaspersky dengan 760 responden pada tahun ini mengungkapkan hampir 8 dari 10 saat ini menerapkan sistem bekerja dari rumah atau WFH. hal ini membuktikan bahwa selama pandemi berlangsung hampir semua hal dilakukan melalui digital. Dimana hampir semua sektor pekerjaan harus beradaptasi dengan menggunakan internet sebagai penghubung antara satu dan lainnya untuk urusan pekerjaan.

 

Dengan banyaknya penggunaaan internet yang meningkat selama pandemi ini juga membuka potensi yang memungkinkan untuk dieksploitasi oleh pelaku kejahatan siber. Bahkan dilaporkan selama pandemi ini jumlah serangan siber di Asia Tenggara meningkat dengan cukup pesat.

 

Dalam konferensi media virtual dengan jurnalis terpilih di Asia Tenggara, disebutkan bahwa pelaku kejahatan siber menjadikan pemerasan sebagai senjata mereka untuk memastikan korban membayar uang tebusan untuk itu.

 

Selain itu terdapat juga keberadaaan grup ransomware teratas di Asia Tenggara yang menargetkan perusahaan kenegaraam, manufacturing dan trading steel sheet, aerospace dan engineering, perusahaan minuman, perhotelan dan layanan akomodasi, perusahaan untuk palm product hingga perusahaan layanan IT. Itu adalah sektor industri yang rentan terkena kejahatan siber.

 

Mereka melakukan kejahatan dengan cara membocorkan data korban yang menolak membayar tebusan lebih dari sekali. Mereka membocorkan 700MB data internal online pada November 2019, dengan pernyataan bahwa dokumen yang dibocorkan hanyalah 10% dari data yang mereka curi.

 

Tidak hanya itu, para hacker itu sampai membuat situs web dimana mereka mengungkapkan identitas korban dengan rincian serangan, tanggal hack, jumlah data yang dicuri, nama server dan masih banyak lagi. Para hacker ini sebenarnya melakukan serangan yang cukup sederhana saja. Mereka masuk ke sistem, mencari data yang paling sensitif kemudian mengunggahnya ke cloud mereka.

 

Kemudian data itu tadi akan dienkripsi dengan RSA. setelah itu baru mereka meminta uang tebusan kepada korban mereka. Jumlah uang tebusan yang diminta juga ditentukan tergantung perusahaan dan volume data yang dicuri. Kemudian para grup hacker ini akan mempublikasikan detailnya pada web mereka dan memberikan tip anonim kepada wartawan.

 

Grup hacker yang terkenal melakukan ini disebut Maze. Saat ini semua pasukan pemberantasan kejahatan siber sedang memantau  pergerakan Maze, dan dideteksi adanya peningkatan Maze secara global terhadap beberapa perusahaan di Asia Tenggara yang berarti metode pemerasan yang satu ini sedang menjadi tren dan mendapatkan momentumnya.

 

Sementara hal ini tidak bisa disepelekan terutama saat berhubungan dengan reputasi. Jika ingin menjaga sebuah reputasi maka mau tidak mau akan menuruti permintaan para pelaku kejahatan siber ini. Meskipun sangat disarankan bagi perusahaan atau organisasi untuk tidak gegabah dengan membayar uang tebusan kepada mereka apapun yang terjadi.

 

Untuk saat ini cara pencegahan yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah mencadangkan semua data yang dimiliki dan menyewa perusahaan keamanan siber untuk menjaga pertahanan keamanan database perusahaan mereka agar terhindar menjadi korban dari pelaku kejahatan siber ini.

Posted in: News


error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

WhatsApp chat